Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Mei 2014

Kalut Tak Becus

Akan kutulis sajak ini sebagai rasa ketidakbecusanku mengahadapi keadaan sebenarnya

Didesak oleh jalan lurus panjang
Sekarang berkelok tajam tak bertujuan
Dan serba tidak benar
Tidak teratur
Bahkan harus kepada mengadu
Diri sendiri saja sudah tidak becus
Setidaknya sedikit syukur ku tidak muncul
Menyelinap di berbagai keegoisan kebahagian semu
Entah sembunyi di balik angan yang masih fatamorgana
Ini mimpiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, cita ku
Akan apa yang ada didepan saya
Harus bisa...................
Ku dapatkan.................
Dari sini........................
Yah, dari apa? dari siapa? Kemana?  Apa?
?
Aku menjadi siang bukan pagi lagi dan bukan sore
Aku hilang sejenak, hirup pikuk mereka
Aku Isolasi diri
Karena tidak becus.

28-04-2014

Melancholia

Apakah kalian pernah menemukan seperti ini.
Ketika melagu diatas segala masa dibelakang kita.
Merasakan banyak memori disana.
Alunannya pelan desirnya mengusik dan pelan.
Kenapa seringan awan begitu saja.
Melepaskan segalanya.
Setitik demi setitik menjadi tetapan yang tidak bisa dibaca arahnya.
Daun daun kering mulai jatuh di sore hari disebuah taman bangku yang kosong, setelah keramaian menjamahnya.

5-04-2014

Minggu, 20 April 2014

Mencari Kepemimpinan

Mencari kepemimpinan
         Sedikit menguraikan pandangan saya dalam beberapa gemuruh situasi berita kali ini yang mengulas berbagai sosok sosok yang akan memimpin bangsa kita. Pandangan sebagai masyarakat dan sebagai seorang yang berada kalangan menengah biasa yang masih bisa mencermati atau nantinya mengomentari. Setiap 5 tahun kita dihadapkan pada sebuah era bahwa bangsa ini akan dipimpin oleh siapa, kearah mana, dan dengan tujuan yang seperti apa? Masyarakat saya pandang punya banyak harapan dengan berbagai hal yang dimiliki Tanah Air ini. Pendidikan, perekonomian, kesejahteraan, dan kemajuan segala aspeknya. Jangan lah jadi kita mencari pemimpin karena faktor kepentingan. Entah faktor kepentingan dan transaksional yang sekarang terjadi di Kepemimpinan kita. Sayang sekali. Yah, ini mungkin karena demokrasi kita yang kebablasan, dengan sitem partai yang masih aburadul. Harusnya seperi apa?? Kita rindu akan pemimpin yang progresif dan benar bekerja dalam sebuah tim ataupun individu. Melihat bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, maju dan melimpah. Membawa waktu 5 tahun memang tidak mudah,minimal ada hal yang bisa dan harus diperbuat untuk memperbaiki terus, sampai tangga demi tangga kepemimpinan terlewati. Mungkin ini lah yang harus dilakukan, bahwa sebagai pemimpin harus memberikan sesuatu yang terbaiknya bukan atas dasar kepentingan tapi atas dasar suara 237,6 juta jiwa ini.

Kamis, 17 April 2014

Berteater itu mengajari hidup yang sepi

Berteater itu mengajari hidup yang sepi, keras, dan berjuang untuk selalu menikmatinya. Sebelumnya terimakasih proses ‘ra ruh’ yang hampir 8 kali pentas kita lewati. Saya hitung, kidung kamardikan,jombang, pacitan, kebakkramat, ums (3x), batang. Setelah melepas karakter dalam ra ruh saya mendapatkan apa yang lebih di dalamnya. Terimakasih mas jais mb ratna, kawan, budi, emje, cesa. Mendapati kesendirian dan mendapati karya itu adalah hal yang luar biasa. Dengan keringat dan capaian maksimal, tentang apa yang kita gagaskan dan kita rasakan selama ini. Kemerdekaan yang tak pernah utuh dari manusia dan sekelompok orang. Menjadi marjinalitas yang sempurna. Pemikiran yang orisinalitas dari kawan Kidung.
Kebersamaan yang menjadikan ikatan kuat dimana proses selalu berjalan dengan kegigihan tanpa henti untuk sebuah capaian kelompok, dan capaian proses itu. Untuk memberikan arti pada penonton yang melihat dengan definisi berbeda-beda. Ya absurb. Yang akan menerjemahkan itu kedalam diri masing-masing.
Pertama saya bercerita kali ini mengenai proses yang berlangsung hampir 6 bulan. Dimulai dari proses isendentil untuk menarik sebuah tontonan baru dari mahasiswa. Berasal dari tantangan untuk melewati hal yang tidak biasa dan fantastis diakhirnya. Dan dilanjutkan dalam diskusi-diskusi malam larut yang di juga dcekoki kopi penghila kantuk serta kebulan asap. Sebelum menuju pentas ra ruh kita dilatih untuk pentas pengisi kecil juga. Pacuan diri untuk terus berproses meningkat. Sampai pada sebuah akan ditampilkan tontonan untuk Kemerdekaan 17 Agustus, dan mulai cetusannya dari itu. Kita cari bersama, kita bergerak berlatih dan tak sampai putus. Terus dan terus. Itulah semboyannya. Kekuatan, gairah yang kuat memacu adrenalin malam,bahkan subuh. Teringat juga saat masa puasa di dalam sanggar. Kita bertahan! Lalu mulailah dari sebuah pertunjukan di Dawung Wetan Pentas Kidung Kamardikan kita menampilkan ‘ra ruh’. Entah rasa gugup atau apapun tidak ada. Kita bisa, kita lewati dengan hal yang diluar dugaan kita.
Kita ditawarkan untuk bergerilya budaya menuju beberapa kota diantaranya pacitan,jombang, dan di kebakkramat karanganyar. Perjalanan yang hebat bersama kawan gerilya, menjadikan keluarga disana. Dijombang perjalanan malam bermotor hampir 8 jam non stop dan di Pacitan kita bermalan dipantai dan menikamati indahnya alam disana serta sebelumnya menikmati sepi sunyinya sebuah desa dimana kita pentas dan di malam pentas riuh dengan penonton yang rindu akan hiburan yang mendidik kita. Saya kagum dengan masyarakat itu yang serba terbatas tetapi mereka masih selalu tersenyum dengan keterbatasannya dan hiburannya sendiri. Bahkan disana televisi belum mencuci pikirannya mereka yang masih penuh dengan alam sekitar. Pengalaman yang luar biasa sebagai seorang pemain, seorang pemuda, dan seorang manusia yang selalu diciptakan untuk merasakan hal-hal kecil. Kita luapkan segalanya. Kita kerahkan segalanya. Untuk teater untuk kidung dan untuk hidup.
Terimakasih teater,kidung,kawan,sahabat,manusia yang tegar,manusia yang kuat disana. Saya merindukan masa itu. Kita benar benar menjadi keluarga yang selalu diingat.

‘Ra ruh’
Produksi : Teater Kidung
Sutradara : Ratna Hadi
Asstrada : Isnaini ‘Jais’
Pemain : Zafit Budi Cessa Emje
20 Agustus 2011 Kidung Kamardikan
1  Oktober 2011 Raih Kidung Cinta
15 Oktober 2011 Jombang
18 Oktober 2011 Kebakkramat
22 Oktober 2011 Pacitan
31 Oktober 2011 Pentas USF Griya UMS
27 November 2011 Batang
31 Desember Griya UMS (Tahun Baru) Pelepasan Karakter
Setiap orang memiliki prosesnya tinggal bagaimana kita betahan dengan kegigihan kekuatan yang lebih dari yang dimiliki manusia itu sendiri dan kita dapatkan sesuatu dari sana


Selasa, 18 Maret 2014

Review "JOKOWI Memimpin Kota Menyentuh Jakarta"

Tak perlu merasa miskin ketika kita berada dalam kondisi berkekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan pada orang-orang yang putus harapan dan tak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib [hal 37].

Dalam hidup, manusia selalu belajar. Disadari atau tidak, yang masuk ke dalam pikiran dan hati selalu bertambah. Dan itu akan menciptakan perubahan-perubahan. [hal 42]


....

Senin, 17 Juni 2013

Puisi Cahaya Bulan

Gie - Puisi Cahaya Bulan

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu...
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Mandalawangi...
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu...
Saat kudekap kau dekaplah lebih mesra...
Lebih dekat...
Apakah kau masih akan berkata...
Kudengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam Cinta...

-------------------

Cahaya Bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu
Dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban... kegelisahan hati

Rabu, 28 November 2012

Filosofi Kopi

Kopi yang kamu minum hari ini?
"DEE"
Kopi Tiwus :
Artinya

"Walau tak ada yang sempurna hidup ini indah begini adanya"

"Kalau saja hidup tidak ber-evolusi,kalau saja sebuah momen dpt selamany menjadi fosil tanpa terganggu,kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan dsatu titik,maka tanpa ragu aku akan memilih satu detik brsamamu utk diabadikan. Cukup satu."
-(filosofi kopi 41)-

Cinta jgan selalu dtempatkan sbg iming iming besar,atau spti ranjau yg tahu tahu meledakkan mu entah kapan dan kenapa. 

Cinta yg sudah dpilih sebaikny diikutkan dsetiap langkah kaki,merekatkan jemari,dan brjalan kalian brgandengan.

Karena cinta adl mengalami. Cinta adalah aku dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yg terpantau agar tetap harmonis.

Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot utk dsembah sujud.
-(fil-kop 43)-





Sebuah Kumpulan Prosa Dewi DEE Lestari yang berimajinasikan tinggi. SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

Minggu, 01 April 2012

Malam-Pagi


Malam-Pagi

Malam ini seperti neraka..
tertusuk-tusuk
mengharap pagi..
kenapa kau pagi?

|Begitu saja malam menebak|
|Aku tak mau ada yang hilang dengan pagi|
|Sejuk, embun, hijau|
|Menyikap kesunyian, ramai|

Apa waktu itu akan datang lagi?
Ketika pagi menyongsong
Matahari sudah tinggi
Aku terbangun dengan kekosongan siang

Sejujurnya aku tak mau dan
benarbenar  tidak mau..
Menelan ludah saja kering
Aku ingin hiasan pagi indah
biru pagi, hening, dan kau muncul.. 


Purworejo, 23 Maret 2012

Selasa, 20 Maret 2012

Lupa

LUPA (untuk kaum kaum berpikir disana)

Angan-angan dalam lumbung pikir
Tak tersampai oleh tangan
Rasa dalam gaung dada
Mampet berputar-putar

Mungkin ini rasanya ketidaktauan diri
Seolah berjalan-jalan saja
Mana yang harus kemana
Siapa yang harus dimana

Filosofi-filosofi kehidupan yang muntah
Apa saja menjadi kediktatoran
Membanjiri kebenaran
Menggenang diatas permukaan yang hanyut

Ini negara bebas?
Ini kehidupan pilihan?
Pilihan adalah kesalahan
Kebebasan menyesatkan

Terkurung dosa prasangka
Menyerah pada sangkaan
Kemungkinan lepasss laluu “Lupa”
Lupa siapa yang harus diurus...

Menjadi lebuh baik atau buruk????


SOLO, 20-03-2012


Rabu, 15 Februari 2012

Tak Terikat (Marjinal)

Rasanya ingin aku sendiri, berkata 'aku ini manusia sepi' .
Berjarak dengan waktu.
Tak terikat, marjinal
Hanya aku,egois memang..
Terikat seperti terbatas tapi bebas akan buas.
Ikatan apa ini. Mereka-reka.
Harus aku lakukan, apapun. Tak terpaku siapapun, sampai kapan pun.
Masih tetap di rel.

-12 feb 2012-

Bahasaku....


Bahasaku. Membara,letupan nafas mengalir. Akan ku terjemahkan. Akan ku bahasakan.

Kata-kata itu meluapkan. Kata-kata itu meremehkan. Siapa? Kata-kata itu. Aku? Ya.

Bobrok diriku. Tak mampuan,sama sekali penipu. Seperti menghindar atau memang menghindar. Tidak tahu mana yang benar maupun yang salah. Mungkin perasaan ku saja.

-Purworejo+Solo 8 februari 2012-


WanitaKu

Senyum manismu dalam berat pikir
Berkelebat dengan jalan-jalan masalah
Memberinya Keindahan
Memberinya Kekuatan

"....
Wanitaku tak lemah
Wanitaku tak layu
Wanitaku yang berparas
Wanitaku yang berjiwa wanita..."

Wanita dengan cinta
Cinta terhadap waktu
Cinta Tuhan_nya
Cinta segala

Adinda, apa yang harus kau lakukan?
pilihan-pilihan itu?
Kamu hanya butuh senyum ringan
Itu bukan pilhan tapi jalani saja

Janganlah tersenyum berat
Janganlah berdiam susah
Tersenyumlah riang bebas
Bercakaplah sesukamu

Dimana wanitaku?

Senin, 02 Januari 2012

Sajak Kebodohan

Bertanya kebodohan dalam ke’aku’an
Berpikir keragaman yang percuma
Membiaskan keraguan
Memburamkan kecacatan            

Bumi kemanusiaan yang mencari
Bahasa, kepatahan ungkapan sebenarnya
Kembali ke orang-orang yang menimbul
Kembali ke citra yang dibuat-buat

Kerja sanasini,mikirmikir,rasarasa
Terlambat, tak bergerak kemana
Ingatan yang tak jadi simpanan
Dibuang bak berlalunya angin

Curang… lebih bagaimana?

Individu yang memiliki dirinya tak utuh

Tak siap berhadapan dengan diri lain

Mengurus tak terurus sendiri

usaha membagi diri
waktu dijalan
menuntut terus
kembali setelah awal

Setahun terlalu banyak
dibuang keluar
Selama keadaan yang didapat
diberikan bersama…


Solo, 28 Desember 2011

Selasa, 20 Desember 2011

Sabtu

Sabtu, penuh dengan gairah
lalulalang
mendung, rintik terasa lengang
tetapi, menyeruak keinginan

Sempit, 
padat berdahuluan
behenti
menunggu melewati

angin menambah kibar gairah

sabtu, 
seperti melengkingkan puisi
tak terdengar
sabtu,
seperti sembunyi hari lain
sabtu,
nikmatilah...

rendu,senyap,ramai,menggugah..




Solo,17 Desember 2011

Sabtu, 08 Oktober 2011



DI KALA HUJAN TAK BERHENTI

Titik air yang terasa begitu semarak dalam hati
Hujan membawaku pada rasa itu kembali
Rasa kasih yang timbul dari jiwa yang seakan mati
Mati bagaikan tumbuhan yang tak memiliki bunga, daun, akar
Dan yang tumbuh hanya sebatang tumbuhan lurus
Yaitu raga ini

Tumbuhan ini akan kesana-kemari terkena
Angin sepoi yang tak berbisik sekalipun
Tumbuhan ini juga sendiri,
Bahkan hama pun tak mau mendekatinya
Maupun semut yang bahkan hampir setiap hari berada disana

Tak ada yang tau jiwa tumbuhan ini
Karena tumbuhan ini seperti aku
Aku yang hanya berjalan di atas rel kehidupan ini
Aku yang hidup untuk hidupku saja
Dan aku yang sendiri termenung
Di kala hujan tak berhenti



09/02/2011
Zafit Nurdin

SEMUANYA TAK BERARTI

Tak ada artinya orang berjalan jika tak tahu
Kemana jalan yang akan dituju

Tak ada artinya berangan-angan jika
Hanya diam terpaku

Tak ada artinya berceloteh dan berteori jika
Tak berdasar pada fakta

Tak ada artinya kita tahu dan mengerti jika
Tak pernah melakukan

Tak ada artinya mengasihi dan menyayangi
Jika tak tahu untuk apa kita mengasihi dan menyayangi itu

Dan semuanya tak berarti jika....
Dan semuanya  akan berarti jika....

13-02-2011

Zafit NUrdin

Minggu, 07 Agustus 2011

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

Selasa, 15 Februari 2011

NASIHAT JIWAKU


.....
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.
Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahasia keabadiaan..
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir,
Yang belum terangkat oleh tangan, dan tak tersentuh oleh bibir Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.
Tertiup angin dingin dari musim-musim bunga;
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,
Cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagianku.Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat;
Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.
Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk menghirup harum tumbuhan yang tak memiliki akar, tangkai maupun bunga,
dan yang tak pernah dapat dilihat mata.
Sebelum jiwaku menasihati, aku mencari bau harum dalam kebun-kebun,Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa;
Tapi sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,
Aku mencium udara lebih harum dari semua kebun-kebun di dunia ini dan semua angin di angkasa raya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa muliakerana pujianDan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.
Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku;
Tapi sekarang aku belajar;
Bahwa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panasDan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin.
Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.
Jiwaku menasihatiku dan meyakinkankuBahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah berbanding raksasa.
Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,
Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawandalam pemberontakan.
Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanahyang sama darimana semua manusia diciptakan.
Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.
Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,
Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.
Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;
Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.
Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku,
Bahwa laguku tidak diciptakan dalam diriku;Kerana meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya,
Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,Aku bukanlah pemain kecapi.
Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan perkataan ini:
"Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok.
" Pada saat itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai;
Tapi kini aku terdidik perkara ini :
Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat, serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.
Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.
Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.
Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza di antara kita.
Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku,
Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini.

....
......