Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Mencari Kepemimpinan

Mencari kepemimpinan
         Sedikit menguraikan pandangan saya dalam beberapa gemuruh situasi berita kali ini yang mengulas berbagai sosok sosok yang akan memimpin bangsa kita. Pandangan sebagai masyarakat dan sebagai seorang yang berada kalangan menengah biasa yang masih bisa mencermati atau nantinya mengomentari. Setiap 5 tahun kita dihadapkan pada sebuah era bahwa bangsa ini akan dipimpin oleh siapa, kearah mana, dan dengan tujuan yang seperti apa? Masyarakat saya pandang punya banyak harapan dengan berbagai hal yang dimiliki Tanah Air ini. Pendidikan, perekonomian, kesejahteraan, dan kemajuan segala aspeknya. Jangan lah jadi kita mencari pemimpin karena faktor kepentingan. Entah faktor kepentingan dan transaksional yang sekarang terjadi di Kepemimpinan kita. Sayang sekali. Yah, ini mungkin karena demokrasi kita yang kebablasan, dengan sitem partai yang masih aburadul. Harusnya seperi apa?? Kita rindu akan pemimpin yang progresif dan benar bekerja dalam sebuah tim ataupun individu. Melihat bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, maju dan melimpah. Membawa waktu 5 tahun memang tidak mudah,minimal ada hal yang bisa dan harus diperbuat untuk memperbaiki terus, sampai tangga demi tangga kepemimpinan terlewati. Mungkin ini lah yang harus dilakukan, bahwa sebagai pemimpin harus memberikan sesuatu yang terbaiknya bukan atas dasar kepentingan tapi atas dasar suara 237,6 juta jiwa ini.

Jumat, 10 Januari 2014

Beruntunglah "Tidak Kolot"


Beruntunglah kalian yang berpasangan saling mencintai tulus. Mengerti satu sama lain untuk saling bersama apapun tujuan masing masing. Siapapa pun wajib memiliki cinta. Bersama menjalin keterikatan erat sperti batin. Sepasang seperti satu.
Beruntunglah kalian yang selalu bersama secara fisik maupun rasa,meski terpotong waktu dan tempat. Hidup dengan gairah kepastian tanpa ada embel-embel syarat atau keterbatasan. Menjadi penuh menjadi klasik dan menjadi roman-roman. Kita bukan juga aku atau dia.
Beruntunglah kalian untuk saling melunasinya tanpa mencicil satu demi satu. Menepati tanpa perlu terlambat untuk meminta maaf dan berterima kasih. Tidak kolot. Dan tidak memaksakan siapa dan dimana mereka berada.
Berbagi lah dalam menjalani. Banyak hal yang harus dilewati, tanpa atau ada. Melewati begitu saja. Beruntunglah kalian.
Dan kita?

Minggu, 07 Agustus 2011

Bagian penting tubuhmu


Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita
sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan
jawabannya.

"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya
dan aku menanyakan lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya
padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini
pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan
sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."

Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu
masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun
ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia
selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."


Kalung mutiara Annisa



Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun. Suatu
sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika
menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
putih berkilauan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat
cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehinggak Anisa sangat ingin
memilikinya.

Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya,
sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta
apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah
menyetujui untuk embelikannya kaos kaki berenda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, "Ibu,
bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang
tadi..." Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.
Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang
memandangnya dengan penuh harap dan cemas.