Mencari kepemimpinan
Sedikit menguraikan pandangan saya dalam beberapa gemuruh
situasi berita kali ini yang mengulas berbagai sosok sosok yang akan memimpin
bangsa kita. Pandangan sebagai masyarakat dan sebagai seorang yang berada
kalangan menengah biasa yang masih bisa mencermati atau nantinya mengomentari.
Setiap 5 tahun kita dihadapkan pada sebuah era bahwa bangsa ini akan dipimpin
oleh siapa, kearah mana, dan dengan tujuan yang seperti apa? Masyarakat saya
pandang punya banyak harapan dengan berbagai hal yang dimiliki Tanah Air ini.
Pendidikan, perekonomian, kesejahteraan, dan kemajuan segala aspeknya. Jangan
lah jadi kita mencari pemimpin karena faktor kepentingan. Entah faktor
kepentingan dan transaksional yang sekarang terjadi di Kepemimpinan kita.
Sayang sekali. Yah, ini mungkin karena demokrasi kita yang kebablasan, dengan
sitem partai yang masih aburadul. Harusnya seperi apa?? Kita rindu akan
pemimpin yang progresif dan benar bekerja dalam sebuah tim ataupun individu.
Melihat bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, maju dan melimpah. Membawa
waktu 5 tahun memang tidak mudah,minimal ada hal yang bisa dan harus diperbuat
untuk memperbaiki terus, sampai tangga demi tangga kepemimpinan terlewati. Mungkin
ini lah yang harus dilakukan, bahwa sebagai pemimpin harus memberikan sesuatu
yang terbaiknya bukan atas dasar kepentingan tapi atas dasar suara 237,6 juta
jiwa ini.
Saya sendiri salutkan kepemimpinan Bapak Susilo Bambang
Yudhoyono selama 2 periode ini. Bukan untuk melihat dari partainya dari segi
pandangan saya. Tapi dari kepemimpinannya. Terus memberikan hal positif untuk
bangsa ini. Yang dalam 2 dekade ini sedikit banyak kita rasakan, dari mulai
kemajuan ekonominya. Entah nanti apa yang akan lakukan bapak SBY setelah turun.
Saya memberikan gambaran bahwa bapak SBY akan memang memberikan kepercayaan
pada pemimpin setelahnya, dan akan tetap terus memberikan peranan positif
sebagai ‘senior’ dalam pemimpin selanjutnya. Bukan malah akan terus berambisi
dalam mempengaruhi pemerintahan kedepan yang mengatas namakan ‘rakyat’ dalam
sebuah partai. Sifat legowo sebagai
negarawan itu prinsipnya. Karena masanya telah usai dan harus
dipercayakan selanjutnya.
Kembali pada pemimpin
yang dirindukan bangsa ini. Sosok yang berkarakter, teruji, dan bersih, serta
menguasai aspek kepemimpinan secara global maupun kepemimpinan yang utuh bahwa
dia juga sebagai rakyat Indonesia. Perlu yang muda, bukan tua tua yang sudah
lama tampil disana. Yang memang ditunjuk dari rakyat bukan seolah menunjuk
dirinya sendiri bahwa pantas. Yang akan rela merelakan waktu demi waktunya
untuk memikirkan, mengabdikan seluruhnya
dengan segala daya untuk ide-ide, kebijakan, maupun keputusan yang terbaik
untuk semua. Me’manajemen’ bangsa ini menuju suatu strategi pengelolaan kemajuan
bersama. Dengan bebagai adat budaya yang digali, dengan sumber daya manusia,
suber daya alam, suku, agama, bahasa yang berlandaskan Pancasila. Jelas disana
5 isi Pancasila yang sudah dilahirkan oleh pemimpin kita terdahulu yang hebat
maknanya dan kandungannya, serta tidak akan punah ditelan jaman. Keserhanaan
isi Pancasila yang tak muluk-muluk. Yang menjadi dasar rakyat Indonesia
berteduh. Dan memegang erat cintanya di seluruh pelosok.
Kita harus bisa melihat siapa bangsa kita ini dahulu. Dengan
perjuangan dengan kegigihan untuk
merubah kondisi ini. Bahwa kita bisa,dan mampu. Untuk memperlihatkan dunia kita
adalah utuh sebagai bangsa yang besar. Menjadi pemimpin yang membawa enegi
positif pada perubahan akan menularkan kemauan juga pada semua khalayak di
negeri ini. Jadi ingat peribahasa jawa ini.
"Ojo Adigang Adigung Adiguno... Sopo Siro Sopo Ingsun.. Ojo Dumeh"Orang Jawa, dikenal memiliki perasaan halus, serta tenggang rasa tinggi. Karena itulah mereka tidak menyukai orang sombong. Yaitu, orang yang congkak, pongah, angkuh, takabur, menghargai diri sendiri berlebihan dan cenderung meremehkan (merendahkan) orang lain. Di Jawa, sombong dianggap sifat yang buruk (tak terpuji), dan sebaiknya dihindari karena akan jadi gangguan serius bagi komunitas dan lingkungannya. Siapa kamu dan siapa saya. Bahawa manusia diciptakan sama. Tidak untuk saling mencela dan menyombongkan diri. Jangan sok atau jangan mentang-mentang. Terjemahan bebasnya adalah jangan suka memamerkan serta menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, atau menghina orang lain. Misalnya: aja dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya), dan menggunakan kekayaannya untuk berbuat semena-mena. Ya nanti kalo jadi pemimpin jangan semena-mena, tau asal usulnya, dan tidak sombong. Karena seorang pemimpin itu punya kelebihan. Kelebihan yang dimiliki merupakan sesuatu yang “berguna” sekaligus “berbahaya”. Berguna apabila dimanfaatkan demi kebaikan, berbahaya jika hanya digunakan untuk kepuasan pribadi serta dorongan nafsu duniawi belaka.
Yah sedikit pandangan saya mungkin bisa disebut sebagai
pandangan politik. Tapi tidak untuk satu partai politik tertentu, tetapi untuk
sebuah harapan pada pemimpin bangsa kelak.
Saat ini saya rasa ada pemimpin yang saya gambarkan itu. Semoga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar