Minggu, 20 April 2014

Mencari Kepemimpinan

Mencari kepemimpinan
         Sedikit menguraikan pandangan saya dalam beberapa gemuruh situasi berita kali ini yang mengulas berbagai sosok sosok yang akan memimpin bangsa kita. Pandangan sebagai masyarakat dan sebagai seorang yang berada kalangan menengah biasa yang masih bisa mencermati atau nantinya mengomentari. Setiap 5 tahun kita dihadapkan pada sebuah era bahwa bangsa ini akan dipimpin oleh siapa, kearah mana, dan dengan tujuan yang seperti apa? Masyarakat saya pandang punya banyak harapan dengan berbagai hal yang dimiliki Tanah Air ini. Pendidikan, perekonomian, kesejahteraan, dan kemajuan segala aspeknya. Jangan lah jadi kita mencari pemimpin karena faktor kepentingan. Entah faktor kepentingan dan transaksional yang sekarang terjadi di Kepemimpinan kita. Sayang sekali. Yah, ini mungkin karena demokrasi kita yang kebablasan, dengan sitem partai yang masih aburadul. Harusnya seperi apa?? Kita rindu akan pemimpin yang progresif dan benar bekerja dalam sebuah tim ataupun individu. Melihat bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, maju dan melimpah. Membawa waktu 5 tahun memang tidak mudah,minimal ada hal yang bisa dan harus diperbuat untuk memperbaiki terus, sampai tangga demi tangga kepemimpinan terlewati. Mungkin ini lah yang harus dilakukan, bahwa sebagai pemimpin harus memberikan sesuatu yang terbaiknya bukan atas dasar kepentingan tapi atas dasar suara 237,6 juta jiwa ini.

           Saya sendiri salutkan kepemimpinan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono selama 2 periode ini. Bukan untuk melihat dari partainya dari segi pandangan saya. Tapi dari kepemimpinannya. Terus memberikan hal positif untuk bangsa ini. Yang dalam 2 dekade ini sedikit banyak kita rasakan, dari mulai kemajuan ekonominya. Entah nanti apa yang akan lakukan bapak SBY setelah turun. Saya memberikan gambaran bahwa bapak SBY akan memang memberikan kepercayaan pada pemimpin setelahnya, dan akan tetap terus memberikan peranan positif sebagai ‘senior’ dalam pemimpin selanjutnya. Bukan malah akan terus berambisi dalam mempengaruhi pemerintahan kedepan yang mengatas namakan ‘rakyat’ dalam sebuah partai. Sifat legowo sebagai  negarawan itu prinsipnya. Karena masanya telah usai dan harus dipercayakan selanjutnya.

          Kembali  pada pemimpin yang dirindukan bangsa ini. Sosok yang berkarakter, teruji, dan bersih, serta menguasai aspek kepemimpinan secara global maupun kepemimpinan yang utuh bahwa dia juga sebagai rakyat Indonesia. Perlu yang muda, bukan tua tua yang sudah lama tampil disana. Yang memang ditunjuk dari rakyat bukan seolah menunjuk dirinya sendiri bahwa pantas. Yang akan rela merelakan waktu demi waktunya untuk memikirkan,  mengabdikan seluruhnya dengan segala daya untuk ide-ide, kebijakan, maupun keputusan yang terbaik untuk semua. Me’manajemen’ bangsa ini menuju suatu strategi pengelolaan kemajuan bersama. Dengan bebagai adat budaya yang digali, dengan sumber daya manusia, suber daya alam, suku, agama, bahasa yang berlandaskan Pancasila. Jelas disana 5 isi Pancasila yang sudah dilahirkan oleh pemimpin kita terdahulu yang hebat maknanya dan kandungannya, serta tidak akan punah ditelan jaman. Keserhanaan isi Pancasila yang tak muluk-muluk. Yang menjadi dasar rakyat Indonesia berteduh. Dan memegang erat cintanya di seluruh pelosok.

      Kita harus bisa melihat siapa bangsa kita ini dahulu. Dengan perjuangan  dengan kegigihan untuk merubah kondisi ini. Bahwa kita bisa,dan mampu. Untuk memperlihatkan dunia kita adalah utuh sebagai bangsa yang besar. Menjadi pemimpin yang membawa enegi positif pada perubahan akan menularkan kemauan juga pada semua khalayak di negeri ini. Jadi ingat peribahasa jawa ini.
"Ojo Adigang Adigung Adiguno... Sopo Siro Sopo Ingsun.. Ojo Dumeh"
Orang Jawa, dikenal memiliki perasaan halus, serta tenggang rasa tinggi. Karena itulah mereka tidak menyukai orang sombong. Yaitu, orang yang congkak, pongah, angkuh, takabur, menghargai diri sendiri berlebihan dan cenderung meremehkan (merendahkan) orang lain. Di Jawa, sombong dianggap sifat yang buruk (tak terpuji), dan sebaiknya dihindari karena akan jadi gangguan serius bagi komunitas dan lingkungannya. Siapa kamu dan siapa saya. Bahawa manusia diciptakan sama. Tidak untuk saling mencela dan menyombongkan diri. Jangan sok atau jangan mentang-mentang. Terjemahan bebasnya adalah jangan suka memamerkan serta menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, atau menghina orang lain. Misalnya: aja dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya), dan menggunakan kekayaannya untuk berbuat semena-mena. Ya nanti kalo jadi pemimpin jangan semena-mena, tau asal usulnya, dan tidak sombong. Karena seorang pemimpin itu punya kelebihan.  Kelebihan yang dimiliki merupakan sesuatu yang “berguna” sekaligus “berbahaya”. Berguna apabila dimanfaatkan demi kebaikan, berbahaya jika hanya digunakan untuk kepuasan pribadi serta dorongan nafsu duniawi belaka.
Yah sedikit pandangan saya mungkin bisa disebut sebagai pandangan politik. Tapi tidak untuk satu partai politik tertentu, tetapi untuk sebuah harapan pada pemimpin bangsa kelak.
Saat ini saya rasa ada pemimpin yang saya gambarkan itu. Semoga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar