Kamis, 17 April 2014

Berteater itu mengajari hidup yang sepi

Berteater itu mengajari hidup yang sepi, keras, dan berjuang untuk selalu menikmatinya. Sebelumnya terimakasih proses ‘ra ruh’ yang hampir 8 kali pentas kita lewati. Saya hitung, kidung kamardikan,jombang, pacitan, kebakkramat, ums (3x), batang. Setelah melepas karakter dalam ra ruh saya mendapatkan apa yang lebih di dalamnya. Terimakasih mas jais mb ratna, kawan, budi, emje, cesa. Mendapati kesendirian dan mendapati karya itu adalah hal yang luar biasa. Dengan keringat dan capaian maksimal, tentang apa yang kita gagaskan dan kita rasakan selama ini. Kemerdekaan yang tak pernah utuh dari manusia dan sekelompok orang. Menjadi marjinalitas yang sempurna. Pemikiran yang orisinalitas dari kawan Kidung.
Kebersamaan yang menjadikan ikatan kuat dimana proses selalu berjalan dengan kegigihan tanpa henti untuk sebuah capaian kelompok, dan capaian proses itu. Untuk memberikan arti pada penonton yang melihat dengan definisi berbeda-beda. Ya absurb. Yang akan menerjemahkan itu kedalam diri masing-masing.
Pertama saya bercerita kali ini mengenai proses yang berlangsung hampir 6 bulan. Dimulai dari proses isendentil untuk menarik sebuah tontonan baru dari mahasiswa. Berasal dari tantangan untuk melewati hal yang tidak biasa dan fantastis diakhirnya. Dan dilanjutkan dalam diskusi-diskusi malam larut yang di juga dcekoki kopi penghila kantuk serta kebulan asap. Sebelum menuju pentas ra ruh kita dilatih untuk pentas pengisi kecil juga. Pacuan diri untuk terus berproses meningkat. Sampai pada sebuah akan ditampilkan tontonan untuk Kemerdekaan 17 Agustus, dan mulai cetusannya dari itu. Kita cari bersama, kita bergerak berlatih dan tak sampai putus. Terus dan terus. Itulah semboyannya. Kekuatan, gairah yang kuat memacu adrenalin malam,bahkan subuh. Teringat juga saat masa puasa di dalam sanggar. Kita bertahan! Lalu mulailah dari sebuah pertunjukan di Dawung Wetan Pentas Kidung Kamardikan kita menampilkan ‘ra ruh’. Entah rasa gugup atau apapun tidak ada. Kita bisa, kita lewati dengan hal yang diluar dugaan kita.
Kita ditawarkan untuk bergerilya budaya menuju beberapa kota diantaranya pacitan,jombang, dan di kebakkramat karanganyar. Perjalanan yang hebat bersama kawan gerilya, menjadikan keluarga disana. Dijombang perjalanan malam bermotor hampir 8 jam non stop dan di Pacitan kita bermalan dipantai dan menikamati indahnya alam disana serta sebelumnya menikmati sepi sunyinya sebuah desa dimana kita pentas dan di malam pentas riuh dengan penonton yang rindu akan hiburan yang mendidik kita. Saya kagum dengan masyarakat itu yang serba terbatas tetapi mereka masih selalu tersenyum dengan keterbatasannya dan hiburannya sendiri. Bahkan disana televisi belum mencuci pikirannya mereka yang masih penuh dengan alam sekitar. Pengalaman yang luar biasa sebagai seorang pemain, seorang pemuda, dan seorang manusia yang selalu diciptakan untuk merasakan hal-hal kecil. Kita luapkan segalanya. Kita kerahkan segalanya. Untuk teater untuk kidung dan untuk hidup.
Terimakasih teater,kidung,kawan,sahabat,manusia yang tegar,manusia yang kuat disana. Saya merindukan masa itu. Kita benar benar menjadi keluarga yang selalu diingat.

‘Ra ruh’
Produksi : Teater Kidung
Sutradara : Ratna Hadi
Asstrada : Isnaini ‘Jais’
Pemain : Zafit Budi Cessa Emje
20 Agustus 2011 Kidung Kamardikan
1  Oktober 2011 Raih Kidung Cinta
15 Oktober 2011 Jombang
18 Oktober 2011 Kebakkramat
22 Oktober 2011 Pacitan
31 Oktober 2011 Pentas USF Griya UMS
27 November 2011 Batang
31 Desember Griya UMS (Tahun Baru) Pelepasan Karakter
Setiap orang memiliki prosesnya tinggal bagaimana kita betahan dengan kegigihan kekuatan yang lebih dari yang dimiliki manusia itu sendiri dan kita dapatkan sesuatu dari sana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar