Rabu, 26 Maret 2014

Meng:eja: Maret 2


Waktunya menulis lagi sudah saatnya..

Sudah seperti biasanya datangnya setelah hiruk pikuk siangku datang, ya tengah malam ini.
Menatap langit-langit asbes kamar terbatas dan mentok disitu saja. Ini saatnya memulai segalanya dengan baik dan harus lebih baik. Menjadi manusia biasa yang menurut pada takdir dan kepecayaan pada-Nya. Segalanya sudah terekam dan terproses sendiri dalam diri. Selalu ada yang mengikutinya dan berulang membentuk. Tidak semudah memulai lebih sulit menjaga dan meneruskan menjadi lebih dan bersyukur. Semuanya tinggal dilanjutkan, dengan harapan, mimpi dan cita-cita. Karena manusia ini akan terus melewati batasnya,gerak,keluar sampai mata nurani memuaskan logika.

Meng:eja: Maret 1


Sudah berlalu ya harapan ini...
Terbangun setelah bergulat dengan semua hal yang membuat lelah. Masih ada tempat teristimewa.disini.. di masa yang akan dijumpai...

Selasa, 18 Maret 2014

Review "JOKOWI Memimpin Kota Menyentuh Jakarta"

Tak perlu merasa miskin ketika kita berada dalam kondisi berkekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan pada orang-orang yang putus harapan dan tak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib [hal 37].

Dalam hidup, manusia selalu belajar. Disadari atau tidak, yang masuk ke dalam pikiran dan hati selalu bertambah. Dan itu akan menciptakan perubahan-perubahan. [hal 42]


....

Senin, 27 Januari 2014

Catatan Kemarin Sore

Catatan kemarin sore..
Baru saja sore itu berlalu indah sedemikian rupa layaknya nyanyian burung burung sore. Setelah hujan turun. Menanti kehadiran orang yang didambakan. Turun dari sebuah kereta sore ini. Kegelisahanku muncul dikala redup sampai. Tanpa kasih maenjadi kusam langitnya. Benar-benar kasihan. Sampai kapan ini. Rasanya capek dan kesal hanya menanti. Membebaskan saja bagaimana. Membuang waktu percuma untuk sebuah perjudian. Kasar sepertinya, tapi memang itu. Serasa ditindah. Oh, kasihan. Tak sampainya mereka membelai dedaunan sore. Mendayu tersepoi. Ruang dan waktu sudah menjadi bekal yang sama di masa datang. Menjadi tolak ukur kesaksian yang nyata. Membeberkan ketidakharmonisan dan ketidaksekawanan. 
Kemarin sore..
Baru saja bergulir waktu yang singkat dan harus mulai pelan, sedikit, meninggalkannya. Menjadi sore besok itu baru. Baru dengan keyakinan baru bahwa akan ada rintik-rintik yang mendinginkan. Lalu akan ada seniman yang mengabadikannya menjadi lukisan jingga,merah,ungu.
Ya, sudah menjadi titik titik selanjutnya. Bukan hanya titik,tapi mau mengisinya lagi entah dimana. Memang sih kemarin sore juga masih titik-titik tapi itu berjalan terpencet terus dan tidak berhenti.
Aku berdoa catatan kemarin sore ini suatu saat terbaca. Lalu mengikiskan. Dan mengabadikan.

Zafit Nurdin
Catt 26 Januari 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Beruntunglah "Tidak Kolot"


Beruntunglah kalian yang berpasangan saling mencintai tulus. Mengerti satu sama lain untuk saling bersama apapun tujuan masing masing. Siapapa pun wajib memiliki cinta. Bersama menjalin keterikatan erat sperti batin. Sepasang seperti satu.
Beruntunglah kalian yang selalu bersama secara fisik maupun rasa,meski terpotong waktu dan tempat. Hidup dengan gairah kepastian tanpa ada embel-embel syarat atau keterbatasan. Menjadi penuh menjadi klasik dan menjadi roman-roman. Kita bukan juga aku atau dia.
Beruntunglah kalian untuk saling melunasinya tanpa mencicil satu demi satu. Menepati tanpa perlu terlambat untuk meminta maaf dan berterima kasih. Tidak kolot. Dan tidak memaksakan siapa dan dimana mereka berada.
Berbagi lah dalam menjalani. Banyak hal yang harus dilewati, tanpa atau ada. Melewati begitu saja. Beruntunglah kalian.
Dan kita?

Rabu, 04 Desember 2013

Bermerk



Kalian tahu sekarang aku punya sepatu
yang bermerk aku juga punya celana kantoran bermerk.
Pasti aku hebat. Pasti aku tidak sama dengan yang lain yang selalu disbanding bandingkan yang selalu memuaskan orang lain dari pada dirinya yang selalu membanggakan merk orang lain.

Tapi aku punya merk sendiri, aku tak punya pembanding dan aku adalah satu tentang Zafit! Titik.

TitikTitikTitikTitik


 4 des 13

Selasa, 03 Desember 2013

Larut

Melaluinya sampai larut, terasa kesal. Menuju waktu ku yang semakin bnyak. Terlalu. Banyak. Kerja.
Tinggal sisa sisa kenangan disana. Tapi masih dan masih kembali lagi besok. Kawan. Pedas mata ku terus melihat monitor.
Masih harus terus dan tetap terus. Sampai bisa. Disana. Aku berdiri. Akan proses hidupku. Akan lelah larut waktuku tersita.
Siapa pun akan tahu. Mengenai tulisan ini dan titik disana aku dapatkan.

 Kita adalah waktu dan segala isinya. 

Zafit Nurdin