Sabtu, 08 Oktober 2011



DI KALA HUJAN TAK BERHENTI

Titik air yang terasa begitu semarak dalam hati
Hujan membawaku pada rasa itu kembali
Rasa kasih yang timbul dari jiwa yang seakan mati
Mati bagaikan tumbuhan yang tak memiliki bunga, daun, akar
Dan yang tumbuh hanya sebatang tumbuhan lurus
Yaitu raga ini

Tumbuhan ini akan kesana-kemari terkena
Angin sepoi yang tak berbisik sekalipun
Tumbuhan ini juga sendiri,
Bahkan hama pun tak mau mendekatinya
Maupun semut yang bahkan hampir setiap hari berada disana

Tak ada yang tau jiwa tumbuhan ini
Karena tumbuhan ini seperti aku
Aku yang hanya berjalan di atas rel kehidupan ini
Aku yang hidup untuk hidupku saja
Dan aku yang sendiri termenung
Di kala hujan tak berhenti



09/02/2011
Zafit Nurdin

SEMUANYA TAK BERARTI

Tak ada artinya orang berjalan jika tak tahu
Kemana jalan yang akan dituju

Tak ada artinya berangan-angan jika
Hanya diam terpaku

Tak ada artinya berceloteh dan berteori jika
Tak berdasar pada fakta

Tak ada artinya kita tahu dan mengerti jika
Tak pernah melakukan

Tak ada artinya mengasihi dan menyayangi
Jika tak tahu untuk apa kita mengasihi dan menyayangi itu

Dan semuanya tak berarti jika....
Dan semuanya  akan berarti jika....

13-02-2011

Zafit NUrdin

Jumat, 07 Oktober 2011


Mungkin (Katakan)

 

by Syaharani & Queenfireworks

Song/Lyric : Syaharani
Arr: Didit Saad





Jangan membuat dia menungu lebih lama
Mungkin sebaiknya engkau mengatakan saja
Mungkin…. Mungkin

Dari dulu sudah kau buang waktu percuma
Sampai kini masih tetap saja kau berkata
Mmungkin …. Mungkin.

Ref:
Katakan saja padanya
Kau jatuh cinta
Katakan saja kau tak kuasa
Bahwa dia harus percaya

Katakan…. Katakan
Jangan membuat dia menungu lebih lama
Mungkin sebaiknya kau katakan saja
Mungkin…. Mungkin

Reff:…
Katakan…. Katakan
Katakan……..
Kau jatuh cinta
Katakan saja kau tak kuasa
Bahwa seharusnya dia percaya

Mungkin…… dururudududu ..durururururu dudududu …
dururururu dudududu




Senin, 05 September 2011

Performe Art yang dipersembahkan oleh Teater Kidung yang ditampilkan pada tanggal 20 Agustus 2011 yang memperingati Semangat Kemerdekaan Republik Indonesia yang bertempatkan di Tanggul Budaya Surakarta dalam acara Kidung Kamardikan, Teater Kidung menampilkan pementasan Teater yang berjudul RaRuh, diambil dari kata Ora Weruh, bertemakan semangat kemerdekaan. Ditampilkan oleh:

Sutradara: Teater Kidung

Caesa Nanda Aulia Prehandini______Pemain 1
Zafit Nurdin____________________Pemain 2
Budiarso Puguh Hartono__________Pemain 3

Sebuah kegelisahan yang dirasakan melalui pandangan-pandangan masyarakat yang lebih mementingkan hal yang dianggap lebih penting dibandingkan dengan merayakan kemerdekaan Indonesia menjadi tolak ukur teman-teman Kidung dalam mengkritisi masalah sederhana yang terjadi dalam pandangan masyarakat tersebut, berawal dari kegelisahan itulah yang menjadi faktor pembentukan amanat pesan yang disampaikan secara sederhana yang dapat dicerna oleh masyarakat awam.

Minggu, 07 Agustus 2011

Bagian penting tubuhmu


Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita
sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan
jawabannya.

"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya
dan aku menanyakan lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya
padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini
pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan
sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."

Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu
masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun
ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia
selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."


Kalung mutiara Annisa



Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun. Suatu
sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika
menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
putih berkilauan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat
cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehinggak Anisa sangat ingin
memilikinya.

Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya,
sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta
apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah
menyetujui untuk embelikannya kaos kaki berenda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, "Ibu,
bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang
tadi..." Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.
Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang
memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972