Senin, 05 September 2011

Performe Art yang dipersembahkan oleh Teater Kidung yang ditampilkan pada tanggal 20 Agustus 2011 yang memperingati Semangat Kemerdekaan Republik Indonesia yang bertempatkan di Tanggul Budaya Surakarta dalam acara Kidung Kamardikan, Teater Kidung menampilkan pementasan Teater yang berjudul RaRuh, diambil dari kata Ora Weruh, bertemakan semangat kemerdekaan. Ditampilkan oleh:

Sutradara: Teater Kidung

Caesa Nanda Aulia Prehandini______Pemain 1
Zafit Nurdin____________________Pemain 2
Budiarso Puguh Hartono__________Pemain 3

Sebuah kegelisahan yang dirasakan melalui pandangan-pandangan masyarakat yang lebih mementingkan hal yang dianggap lebih penting dibandingkan dengan merayakan kemerdekaan Indonesia menjadi tolak ukur teman-teman Kidung dalam mengkritisi masalah sederhana yang terjadi dalam pandangan masyarakat tersebut, berawal dari kegelisahan itulah yang menjadi faktor pembentukan amanat pesan yang disampaikan secara sederhana yang dapat dicerna oleh masyarakat awam.

Minggu, 07 Agustus 2011

Bagian penting tubuhmu


Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita
sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan
jawabannya.

"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya
dan aku menanyakan lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya
padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini
pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan
sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."

Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu
masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun
ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia
selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."


Kalung mutiara Annisa



Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun. Suatu
sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika
menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
putih berkilauan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat
cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehinggak Anisa sangat ingin
memilikinya.

Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya,
sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta
apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah
menyetujui untuk embelikannya kaos kaki berenda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, "Ibu,
bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang
tadi..." Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.
Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang
memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

Minggu, 24 Juli 2011

Perform Art 20-21 Juli 2011

Performance Unit Seni dan Film
Ide : Teater Kidung
Pemain :
Awang_____________________Musik
Destriyadi Yunas_____________Sastra dan Film
 Zafit Nurdin ________________Sastra dan Film
 Caesa Nanda Aulia Prihandini____Ciprat
 Wiwik Suryani_______________Tari
 Cahya Vega_________________Musik


       Sejarah baru yang dibuat oleh Unit Seni dan Film yang merupakan Follow Up performence pertama pada tanggal 18 Juli 2011 dari sub unit Ciprat, dimana ide sederhana tersebut bertujuan untuk menarik masa para calon mahasiswa baru yang haus akan hiburan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Setelah hasil yang diterima pada performance pertama munculah gagasan utama yang bertujuan memaximalkan performance sebelumnya pada tanggal 19 Juli 2011 yang menggunakan boneka sebagai properti performence Ciprat, Permormance yang muncul, diwakilkan kelima Sub Unit untuk mementaskan pementasan yang ditujukan kepada para pendaftar Universitas Muhammadiyah Surakarta di moment awal mereka mengenal Kampus UMS, dengan ketulusan yang dibawakan oleh para pemain anggota USF (Unit Seni dan Film) angkatan 2010 dan suporter yang membantu terlaksannya pertunjukan tersebut,  telah berhasil memunculkan rasa penasaran bagi banyak warga UMS yang haus melihat pertunjukan secara langsung didepan mata mereka, para warga yang ikut berantusias mendukung pertunjukan insidental tersebut, telah membuka tangan lebar-lebar mengizinkan pementasan yang ditujukan pada khalayak mahasiswa baru tersebut.




Rabu, 29 Juni 2011

Pulang

Disini aku ingin menuliskan tentang keinginan ku ingin dirumah bersama mereka, keluarga ku.

Pertama ibu,
Ibu maaf anak mu ini tidak pulang dan hanya pulang 2 minggu sekali atau bahkan lebih. Ibu ku yang sangat memanjakan ku dirumah yang menginginkan ku tinggal lebih lama dirumah. Ibu betapa aku ingin membantu mu sebisa aku bisa. Hanya untuk bisa membuatmu senang karena anakmu ini. Ibu ku yang paling perhatian sedunia, ibu ku yang paling tak ada duanya sampai kapanpun. Anakmu ini tidak berdaya, tidak bisa membanggakan mu. Aku hanya akan berusaha melakukan yang terbaik bu, untuk aku dan bisa membuat ibu lebih bahagia melihat ku, melihat ku saat aku pulang, menanyai keadaan ku karena lama tidak betemu ibu. Kemudian memberikan jamuan makanan enak saat dirumah hanya untuk anak mu ini yang belum ada apa-apa. Rasanya ingin kembali ke masa dulu bu, saat tidur didekatmu serasa tidak ada halangan dalam pikirku ini. Tetapi sekarang aku tidur sendiri, pikirku menanyai kekangenan ibu pada ku. Aku ingin pulang bu, lebih lama dirumah dengan ibu, dengan semua perhatian ibu, dengan masakan ibu yang tiada tandingannya, juga dengan marahmu yang membuatku kini menjadi semakin besar dan lebih mengerti. Rasanya aku egois disini sering melupakan ibu, sedang ibu dirumah bertanya tentang keadaan ku, maafkan anak mu bu. Anakmu ini hanya punya satu rasa untuk ibu, anakmu ini sangat menyayangi mu sampai kapanpun. Janji anakmu ini bu, aku akan membahagiakan ibu saat tiba nanti, dan selalu menyayangi ibu. Luv u m0m.
Bapak,
Bapak ku yang kuat. Bapak yang memberikan ku jalan yang besar dalam hidup ku. Aku melihat bapak istirahat seharian dirumah saat itu, merasa tidak enak karena bekerja. Pimpinan rumah ku yang tegas dan penyayang pada semua anaknya. Seorang perwira yang elok dengan garis kulitnya yang hitam dan rambut kepala yang sudah usang, maaf bapak. Anak mu ini masih sangat kurang. Nasehat mu yang mengingatkan ku, pandangan mu yang memperlihatkan kejujuran yang sebenarnya. Bapak, anak mu ini tumbuh besar, jangan takut kehilangan anak mu ini. Aku akan selalu pulang untuk melihat bapak dirumah dan bercerita sedikit tentang semua yang kujalani. Bercerita untuk melihat pandangan bapak tentang aku dan memberikan semua yang bapak pikirkan untuk diriku. Bapak terhebat yang pernah ada, bapak ku. Luv u dad.
Hikam, Mas Toba

Kamis, 05 Mei 2011

Ten 2 Five - I Will Fly

You know all the things i’ve said
You know all the things that we have done
And things i gave to you
There’s a chance for me to say
How precious you are in my life
And you know that it’s true

To be with you is all that i need
Cause with you, my life seems brighter and these are all the things
I wanna say...

I will fly into your arms
And be with you
Til the end of time
Why are you so far away
You know it’s very hard for me
To get myself close to you

You’re the reason why i stay
You’re the one who cannot believe
Our Love will never end
Is it only in my dream?
You’re the one who cannot see this
How can you be so blind?

I will fly into your arms
And be with you
Til the end of time
Why are you so far away
You know it’s very hard for me
To get myself close to you

I wanna get
I wanna get
I wanna get myself close to you